Semarang–Demak, 4/6/2026 [SaberPungli.net] Yang terintegrasi dengan tanggul laut raksasa, nelayan di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, menghadapi situasi yang tidak sederhana.
Di satu sisi, pemerintah menyebut proyek tersebut sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi rob yang selama puluhan tahun menenggelamkan permukiman dan lahan produktif warga.
Namun di sisi lain, sebagian nelayan mengaku aktivitas melaut semakin sulit akibat perubahan kondisi pesisir selama proses pembangunan berlangsung.
Bagi nelayan tradisional, laut bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi ruang hidup yang diwariskan turun-temurun.
Ketika jalur pelayaran berubah, area tambat perahu terganggu, atau sedimentasi meningkat akibat pekerjaan konstruksi, dampaknya langsung dirasakan pada pendapatan harian mereka.
Persoalan ini menjadi semakin berat karena sebagian besar nelayan kecil tidak memiliki alternatif pekerjaan lain.
Ironisnya, proyek yang digadang-gadang sebagai penyelamat kawasan pesisir justru memunculkan kekhawatiran baru di kalangan masyarakat.
Belum lama ini, sejumlah warga pesisir Sayung mengeluhkan banjir rob yang justru semakin tinggi di beberapa wilayah setelah infrastruktur tol tanggul laut mulai tersambung.
Keluhan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas penanganan dampak selama masa transisi pembangunan.
Pemerintah memang menegaskan bahwa tol laut Semarang–Demak bukan sekadar jalan tol, melainkan bagian dari sistem perlindungan pesisir yang diharapkan mampu menahan rob dan mengurangi kehilangan daratan akibat abrasi.
Proyek ini ditargetkan selesai pada 2027 dan menjadi model penanganan pesisir Pantura Jawa.
Namun bagi nelayan Sayung, pertanyaan yang paling penting bukanlah kapan proyek selesai, melainkan bagaimana mereka bisa bertahan hidup selama proyek berlangsung.
Kompensasi, pemberdayaan ekonomi, akses melaut yang aman, hingga pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Jika pembangunan hanya berorientasi pada infrastruktur tanpa memastikan keberlangsungan mata pencaharian masyarakat pesisir, maka nelayan akan menjadi pihak yang paling menanggung beban perubahan.
Sebaliknya, jika pemerintah mampu menjadikan nelayan sebagai bagian dari solusi dan penerima manfaat utama, proyek ini berpeluang menjadi harapan baru bagi Sayung yang selama bertahun-tahun dihantui rob.
Pada akhirnya, kemajuan tidak semestinya membuat masyarakat pesisir merasa tersingkir.
Tol boleh dibangun, tanggul boleh ditegakkan, tetapi kehidupan nelayan Sayung juga harus diselamatkan.
Sebab keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari berdirinya beton dan aspal, melainkan dari terjaganya kesejahteraan warga yang hidup di sekitarnya.
(M. Usup Litbang Nas)












