InternasionalKebudayaanNasionalOpiniTNI POLRI

PENJAMASAN DUA PUSAKA ” SUNAN KALIJOGO”

70
×

PENJAMASAN DUA PUSAKA ” SUNAN KALIJOGO”

Sebarkan artikel ini

Demak, 8/6/2026 [SaberPungli.net] Kearifan lokal Spiritualis ,Mistis dan Realistis. Sebuah upacara adat yang digelar setiap tahunnya tiap tanggal 10 dzulhijjah atau tepatnya di hari raya haji.

Jika di bumi arab orang muslim sedunia melakukan rukun Islam maka di wilayah Demak khususnya di bumi perdikan Kadilangu dilaksanakan acara SAKRAL yaitu penjamasan pusaka atau pensucian / membersihkan.

Penjamasan ini tentu beda dengan penjamasan keris keris pada umumnya yang justru dijamasi pada bulan suro atau Muharam, perbedaan tersebut pada praktek saat menjamasi, biasanya dalam menjamasi keris umumnya dicuci memakai air bunga, atau direndam air kelapa, kemudian digosok dengan jeruk nipis lalu dikeringkan, setelah itu baru diwarangi supaya terlihat pamornya.

Hal ini sangat beda dengan penjamasan pusaka milik kanjeng sunan kalidjogo, penuh nuansa kesakralan, diawali dengan tirakat puasa dan meditasi penuh konsentrasi, supaya dalam pelaksanaan menjamasi pusaka kanjeng sunan kalidjogo dapat berjalan lancar.

KESAKRALAN PUSAKA
Dalam menjalankan penjamasan pusaka, para ahli waris yang melaksanakan tugas harus melakukan berbagai tahap ujian, keunikan atau keanehan yang diluar akal atau nalar akan terjadi setiap tahunnya.

Kedua pusaka kanjeng sunan kalidjogo yaitu kanjeng kyai Kotang Ontokusumo dan kanjeng kyai keris Carubuk disimpan dalam sebuah peti yang terdapat diatas pusara makam kanjeng sunan kalidjogo itu diturunkan dan diambil untuk dipangku yang kemudian dibuka dengan sebuah kunci kuno, dalam membuka kunci inipun tidak semudah membuka gembok seperti pada umumnya walaupun keliatan pekerjan tesebut nampak sederhana akan tetapi bila mengalami sesuatu hal yang ganjil peti pusaka juga terasa sangat sulit dibuka.

Ini hanya permulaan awal saja, justru yang diluar nalar apabila sudah mulai melakukan penjamasan kotang ontokusumo dan keris kyai carubuk, maka akan memberikan sinyal atau tanda tanda alam yang tedapat pada kedua pusaka tesebut.

Dawuh dari pinisepuh dahulu mengajarkan bahwa hasil dari tanda penjamasan kedua pusaka tesebut merupakan sinyal atau pertanda kejadian bagi kondisi negara dalam setahun kedepan, tentunya dalam hasil penjamasan kedua pusaka tesebut hanya untuk inten keluarga khususnya tim yang melakukan penjamasan kedua pusaka tesebut.

Tentunya kita selalu berharap bahwa kondisi alam dan negara selalu berjalan baik dan kondusif.

Kta berharap alam ini selalu bersahabat tanpa menimbukan bencana alam serta negara selalu terjaga kondusifitas baik segi keamanan ataupun kesejahteraan bagi rakyat, walaupun semua penentu adalah sang Maha Pencipta, manusia hanya diwajibkan berdoa untuk memohon.

Tentu hal ini akan menimbulkan pemikiran yang kontradiktif bagi orang yang mengedepankan akal, akan tetapi dalam proses penjamasan kedua pusaka kanjeng sunan kalidjogo
tedapat nilai mistis ataupun hak ghaib.

Hal inilah yang mestinya upacara adat penjamasan pusaka kanjeng sunan kalidjogo harusnya dilindungi dalam aspek segi pelestariannya, mengingat dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang terjadi dualisme penjamasan yang dilakukan oleh dua pihak meski dalam penjamasan tahun ini satu pihak bisa membuktikan bahwa pihak merekalah yang mampu menjamasi dengan memasukan beberapa orang dari unsur APH yaitu dari Polres Kasat Intel, Danramil Kota Demak dan Perwakilan dari unsur pemda demak.

Hal ini bertujuan untuk menguak misteri pihak siapakah yang benar melakukan penjamasan pusaka kotang ontokusumo dan keris kyai carubuk milik kanjeng sunan kalidjogo.

Dari kesimpulan diatas maka sesungguhnya sudah dapat di ketahui dengan mudah siapa yang benar dan siapa yang tidak benar.

Pada akhirnya dapat kita ketahui bahwa upacara adat penjamasan pusaka kanjeng sunan kalidjogo adalah upacara sakral yang harus dijaga kelestariannya dan kemurniannya tanpa ada rekayasa yang merusak tatanan adat yang luhur dari pihak pihak yang hanya mementingkan ego pribadi.

Sunan kalidjogo adalah sosok penting dalam sejarah nuswantoro yang sekarang ini wujudnya NKRI, tanpa sunan kalidjogo sudah tentu tidak akan ada negara indonesia apabila kita mau belajar sejarah.

Karena itu bapak proklamator kita Bung Karno ( Ir. Soekarno ) berwasiat ” jangan sekali – kali meninggalkan sejarah ” atau lebih dikenal dengan kalimat “JAS MERAH”.

Dan apabila ditelusuri presiden Soekarno masih keturunan dari panembahan notoprojo yang masih keturunan sunan kalijogo.

Kini bagaimana kita menyikapi sejarah ini dengan arif dn bijaksana khususnya tentang upacara penjamasan pusaka sunan kalidjogo tentunya harus dijaga eksistensinya sebagai budaya lokal ataupun skala nasional jangan sampai di EXPLOITASI oleh pihak yang hanya mencari keuntungan sesat pada tiap tahunnya tanpa memperdulikan nilai adab,etika serta moral, Salam rahayu bagi Nuswantoro yang Agung.

(M. Usup Litbang Nas)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *