Demak [SaberPungli.net] Kepolisian Resor (Polres) Demak, Jawa Tengah bekerja sama dengan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menggelar pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagi pelajar tingkat SMA sederajat di Kabupaten Demak, Senin (9/2/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi digital sekaligus membekali pelajar agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Pelatihan tersebut diikuti 100 siswa-siswi terpilih dari 14 SMA sederajat di Kabupaten Demak.
Para peserta merupakan perwakilan terbaik dari masing-masing sekolah yang diharapkan dapat menjadi agen literasi digital di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Wicaksana Laghawa Polres Demak itu dibuka langsung oleh Kapolres Demak AKBP Arrizal Samelino Gandasaputra.
Dalam sambutannya, AKBP Samel menekankan pentingnya sinergi antara Polri, Mafindo, dan dunia pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul di era digital.
“Kehadiran kita di sini merupakan wujud komitmen Polri, Mafindo, dan instansi pendidikan dalam mempersiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan zaman,” kata AKBP Samel.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi saat ini bergerak sangat cepat dan kecerdasan buatan telah menjadi bagian penting dalam berbagai sektor kehidupan.
Karena itu, generasi muda perlu dibekali pemahaman yang tepat agar mampu memanfaatkan teknologi secara positif.
“Sebagai generasi Z, kalian adalah pemilik masa depan.
Keberlanjutan bangsa ini berada di tangan kalian,” ujarnya.
AKBP Samel juga menyampaikan komitmen Polres Demak untuk mendukung program AI Ready ASEAN yang digagas Mafindo sebagai proyek percontohan Polri.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat dan aman.

“Polres Demak siap mendukung dan menyukseskan program AI Ready ASEAN serta terus bersinergi dengan Mafindo dan dunia pendidikan,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolres mengingatkan agar kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk hal-hal produktif, seperti membantu proses pembelajaran, memecahkan persoalan sosial, dan mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Namun, ia juga mengingatkan adanya potensi penyalahgunaan teknologi, termasuk kejahatan siber, deepfake, dan penyebaran hoaks.
Karena itu, para pelajar diminta tetap waspada dan menjunjung tinggi etika dalam bermedia digital.
“Meski kecerdasan buatan dapat membantu banyak hal, teknologi ini tidak memiliki hati nurani.
Integritas, etika, dan kepatuhan terhadap norma tetap harus menjadi pegangan,” katanya.
Sementara itu, Kasihani narasumber dari Mafindo, menilai pelatihan ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat literasi digital sekaligus karakter pelajar di tengah arus informasi yang semakin kompleks.
“Ke depan, program edukasi teknologi dan literasi digital semacam ini akan terus berlanjut sebagai bentuk komitmen bersama dalam menyiapkan generasi muda yang cakap digital sekaligus memiliki karakter yang kuat,” ujarnya.
(M. Usup Litbang Nas)












