SEMARANG, 10/10/2026 [SaberPungli.net] Menjelang Musyawarah Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB) Kota Semarang, Hernawan Tri Handoyo, Bendahara FKSB periode 2022–2026, menegaskan pentingnya menjaga eksistensi, karakter, identitas, dan warna perjuangan organisasi. FKSB diharapkan tetap menjadi rumah besar organisasi kemasyarakatan (ormas) yang mengedepankan persatuan, komunikasi, dan kontribusi nyata bagi pembangunan Kota Semarang.
Menurut Handoyo, keberadaan ormas memiliki posisi strategis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ormas tidak hanya menjadi wadah berhimpun warga, tetapi juga berperan sebagai katalisator, mediator, penyalur aspirasi, sekaligus kontrol sosial terhadap kebijakan publik yang dijalankan pemerintah maupun lembaga swasta.
Dalam konteks tersebut, FKSB mempunyai peran penting sebagai ruang komunikasi dan koordinasi antarormas, sekaligus jembatan penghubung antara masyarakat dan pemerintah. Karena itu, eksistensi FKSB harus terus diperkuat tanpa kehilangan karakter sebagai forum komunikasi yang mengedepankan kebersamaan dan kesetaraan.
Mitra Produktif, Bukan Oposisi Pemerintah
Handoyo mengapresiasi konsistensi Ketua FKSB Kota Semarang, Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., yang selama ini menekankan bahwa ormas merupakan mitra aktif dan produktif pemerintah, bukan oposisi. Prinsip kemitraan tersebut, menurutnya, telah mewarnai perjalanan FKSB sejak masa pemerintahan Wali Kota Sukawi Sutarip, Soemarmo, Hendrar Prihadi, Mbak Ita, hingga pemerintahan saat ini.
Namun, kemitraan tidak boleh dimaknai sebagai sikap diam atau kehilangan daya kritis. Ormas tetap memiliki tanggung jawab menyampaikan aspirasi, memberikan masukan, serta mengingatkan pemerintah apabila terdapat kebijakan yang perlu diperbaiki.
“Ormas harus mampu menjadi mitra yang produktif, tetapi tetap kritis dan konstruktif. Kemitraan bukan berarti harus selalu membenarkan semua kebijakan. Justru melalui komunikasi yang sehat, aspirasi masyarakat dapat disampaikan dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan,” demikian pandangan Handoyo.
Ia menilai, sinergi antara pemerintah dan ormas akan berjalan optimal apabila dibangun di atas prinsip keterbukaan, saling menghormati, dan kesediaan mendengarkan aspirasi masyarakat.
Pembinaan Ormas Harus Adil, Bukan Anak Emas dan Anak Tiri
Handoyo berharap Pemerintah Kota Semarang terus memperkuat pembinaan dan pemberdayaan ormas secara adil, proporsional, dan berkelanjutan. Ia mengingatkan agar tidak muncul kesan adanya perlakuan berbeda yang membuat sebagian ormas lebih diutamakan, sementara organisasi lainnya kurang memperoleh ruang komunikasi dan kesempatan berkembang.
Menurutnya, setiap ormas yang memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan harus mendapatkan kesempatan yang wajar untuk berpartisipasi dalam program pembinaan, pemberdayaan, dan pembangunan daerah.
“Jangan sampai ada kesan ormas anak emas dan anak tiri. Semua ormas perlu mendapatkan ruang komunikasi dan kesempatan yang proporsional sesuai aturan. Perbedaan latar belakang, jumlah anggota, maupun karakter organisasi jangan menjadi alasan untuk mengabaikan potensi yang dimiliki,” tegasnya.
Ia juga berharap Kota Semarang kembali menjadi rujukan nasional dalam pembinaan dan pemberdayaan ormas, sebagaimana prestasi yang pernah diraih pada 2018. Berbagai program FKSB, seperti Ormas Expo, Ormas Award, Kemah Pembauran Ormas, serta forum diskusi, dinilainya sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperkuat partisipasi masyarakat dan merawat kebinekaan.
Musyawarah Harus Melahirkan Pemimpin Berkualitas
Menjelang musyawarah FKSB, Handoyo berharap proses regenerasi kepemimpinan dapat melahirkan figur yang memiliki visi, misi, integritas, kapasitas, serta gizi organisasi yang memadai.
Istilah gizi organisasi, menurut semangat yang ingin dibangun, bukan sekadar persoalan kemampuan berbicara atau menyampaikan gagasan. Pemimpin FKSB ke depan harus memiliki energi, jejaring, kemampuan mengonsolidasikan anggota, serta kecakapan menerjemahkan visi menjadi program kerja yang nyata dan bermanfaat.
Musyawarah juga harus menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, memperkuat konsolidasi internal, menyiapkan kader, dan merumuskan arah perjuangan FKSB ke depan. Dengan demikian, musyawarah tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan, tetapi menjadi titik awal penguatan kelembagaan.
Handoyo berharap seluruh elemen yang terlibat dapat mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Persatuan dan kedewasaan dalam bermusyawarah menjadi modal penting agar FKSB tetap solid dan mampu menjawab tantangan zaman.
Kemandirian Menjadi Cita-Cita Bersama
Selain memperkuat kepemimpinan, Handoyo menekankan pentingnya membangun kemandirian FKSB, baik dalam aspek kelembagaan, sumber daya manusia, pendanaan, maupun pelaksanaan program.
Menurutnya, hubungan kemitraan dengan pemerintah harus terus dipelihara. Namun, FKSB juga perlu memiliki kemampuan mengembangkan program secara mandiri agar keberlangsungan organisasi tidak semata-mata bergantung pada dukungan pihak tertentu.
“FKSB harus tetap eksis dengan warnanya sendiri: menjadi rumah besar ormas, mitra produktif pemerintah, tetap kritis ketika diperlukan, dan semakin mandiri,” harap Handoyo.
Ia optimistis, melalui persatuan, kaderisasi yang berkelanjutan, kepemimpinan berkualitas, serta pembinaan ormas yang adil, FKSB akan terus memberikan manfaat bagi organisasi kemasyarakatan dan masyarakat luas.
Handoyo berharap FKSB tetap menjadi ruang bersama yang mampu menyatukan beragam elemen masyarakat, memperkuat dialog, menjaga harmoni, serta mendorong partisipasi publik dalam pembangunan.
“Pada akhirnya, yang harus kita jaga bukan hanya keberlangsungan organisasi, melainkan juga nilai, karakter, dan kontribusinya. FKSB harus terus bergerak bersama ormas untuk mendukung terwujudnya Kota Semarang yang semakin maju, harmonis, dan hebat,” pungkasnya.
(M. Usup Litbang Nas_#PUR412.)












