Demak [SaberPungli.net] Adipati Joyodiningrat Kadilangu Demak meluruskan sejarah tradisi penjamasan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga agar masyarakat tidak keliru memahami antara pakem sejarah, nilai spiritual, dan prosesi budaya yang berkembang saat ini.
Penegasan tersebut disampaikan di Kadilangu, Demak, Selasa (5/5/2026), sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam menjaga kemurnian sejarah warisan leluhur Sunan Kalijaga.
KoranProgresif
Menurut Adipati Joyodiningrat, penjamasan pusaka Sunan Kalijaga sejatinya merupakan tradisi sakral keluarga besar trah Kadilangu yang diwariskan secara turun-temurun, bukan semata seremoni budaya atau tontonan publik.
Tradisi ini sejak awal merupakan laku spiritual ahli waris dalam merawat pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, sekaligus bentuk penghormatan terhadap nilai dakwah, adab, dan ajaran leluhur yang diwariskan kepada generasi penerus.
Ia menegaskan, inti utama penjamasan berada pada prosesi sakral penyucian pusaka yang dilakukan ahli waris di lingkungan Kadilangu, khususnya terhadap dua pusaka utama yakni Kotang Ontokusumo dan Keris Kiai Carubuk.
Prosesi tersebut dilakukan dengan tata cara adat yang ketat, menggunakan minyak jamas khusus atau lisah sepuh yang diracik secara turun-temurun dan tidak dapat dipisahkan dari nilai spiritual yang menyertainya.
R. Adipati Djoyodiningrat menjelaskan, masyarakat perlu memahami bahwa unsur iring-iringan, pisowanan, hingga simbol-simbol seremoni yang berkembang dalam rangkaian Grebeg Besar merupakan bentuk kemasan budaya yang tumbuh kemudian. Prosesi tersebut memang menjadi bagian penting dari pelestarian tradisi daerah, namun tidak boleh mengaburkan substansi sejarah asli penjamasan pusaka Sunan Kalijaga yang berakar pada ritual adat dan spiritual keluarga Kadilangu.
Menurutnya, pelurusan sejarah ini penting agar generasi muda tidak hanya mengenal penjamasan sebagai agenda budaya tahunan, tetapi juga memahami ruh dan makna yang terkandung di dalamnya.
Penjamasan bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur, penjagaan marwah sejarah, serta ikhtiar merawat warisan spiritual Sunan Kalijaga yang telah menjadi bagian penting dari peradaban Islam dan budaya Jawa di tanah Demak.
R. Adipati Djoyodiningrat menegaskan, meluruskan sejarah bukan berarti menolak perkembangan budaya, melainkan menempatkan tradisi pada pijakan yang benar.
Sebab warisan Sunan Kalijaga bukan hanya untuk dikenang sebagai simbol kebesaran masa lalu, tetapi untuk dijaga nilai, makna, dan kehormatannya agar tetap tegak dalam sejarah, hidup dalam budaya, dan lestari dalam ingatan masyarakat.
(M. Usup Litbang Nas)












